Di Persimpangan

Satu purnama sudah berlalu. Begitu penat sekali rasanya menahan rasa mau julid ini itu, hahaha. Kayaknya, kali ini giliran jiwa sarkastis saya menunjukkan jati dirinya.

Kurang lebih 30 hari saya coba menampung semuanya (lagi). Mendengar, mencerna, menyimpulkan, menerima, sampai benar-benar mengikhlaskan. Serba salah jatuhnya. Kadang saya belum bisa tepat mendengarkan setiap kabar, terutama beberapa kerabat yang meminta waktu luang untuk hal tertentu. Saya juga sering sulit mencerna, apa sih sebenarnya yang dikeluhin? Semakin dituai lebih dalam, hasilnya masih belum signifikan. Gak bisa sembarangan menyimpulkan, toh yang punya alur ceritanya bukan saya, tapi lebih sering gak follow it up sampai ending, sih. Kalau soal ikhlas, hmm, saya gak ikutan deh, hehe. Pasti kalian lebih handal, ya? Kalau gak, pun, gapapa. Memang tidak semua hal menetap sesuai harapan.*cheers*

Satu purnama sudah berlalu. Banyak sekali hal-hal yang lewat begitu saja, datang terus-menerus, lalu pergi dan mungkin tidak kembali. Ada apa, hayo?  Dari bangun pagi sampai pagi lagi, sudah jenuh berada di titik kekusutan pikiran sendiri. Saya bingung. Semakin kita bertumbuh dan bertemu orang baru, semakin jauh rasanya kita mengenal diri sendiri. Kurang lebihnya, mereka seperti seratus langkah di depan dan saya lagi pantengin dari belakang sambil nyiram benih pohon pisang. Bukan hobi baru, tapi katanya bagus untuk tabungan masa depan. Bijaksana.

Dari tadi saya ngelantur sebenarnya. Beneran bingung mau gambarin gimana isi kepala yang sering ngajak gelut tiap jam-jam rawan (02-04 a.m). Tapi mungkin, cara terbaik adalah menumpahkannya di sini.

Beberapa hari lalu saya menghabiskan waktu bersama teman-teman kuliah. Wah, rindunya bukan main. Ada semangat yang muncul dan tumbuh lagi, rasanya seperti hidup kembali. Jiwa sosial saya bergejolak, hahaha. Mereka benar-benar the good vibes kalau kata anak jaman now. Saya bersyukur punya kesempatan mengenal mereka lebih lagi. Gak cuma sekadar colleague, ada berbagai hal menurut saya yang pantas untuk dijadikan pendamping hidup. Konteksnya, ya, teman seperjuangan. Kita sama-sama punya visi yang sama, berbeda misi tapi serupa-lah-pemikirannya. Umur memang masih paruh baya. belum ada seperempat abad. Tapi percaya deh, pola pikir generasi sekarang itu sudah bisa dibilang inovatif. Pernah ketemu gak sama tipikal orang yang dominan ngomong terus kayak gak ada capeknya, tapi sebanding sama hasil usahanya? Atau, modelannya lebih suka diam-diam dan diam, tiba-tiba lulus!? Saya penasaran sih. Boleh tipsnya, kak, kalau kamu yang baca ini adalah salah satunya😏.

Garis besarnya, tidak ada. Ini semua masih tentang saya, juga tentang mereka, dan hal lainnya yang di depan mata namun tak kasat rasa. Iming-iming menjaga keutuhan dan kebaikan bersama, satu regulasi aja hasilnya berdampak merugikan, imbasnya rata ke seluruh strata (menghela napas).

Kalau dipikir-pikir, untuk berdiri di bulan ini lumayan cukup panjang peraduannya. Gak kebayang, nasib sebagian orang udah sampai di titik apa. Saya belum seberapa. Cek akun instagramnya atau jejaring sosial lain, semua terlihat menikmati tanpa saling mengetahui ada apa dibalik masker dan face shield. Ada yang nyaman tanpa perlu merias wajah kalau keluar rumah, ada yang apes kena hormon disebagian kulit, ada yang seharian lupa gak pake sama sekali, yaa.. macam-macamlah 'manusia' sekarang. Tapi jangan salahkan saya dulu ya kalau gak setuju. Saya sih, taunya, kita sama-sama pengen, kan, kayak negara tetangga?

Satu purnama benar-benar kilat waktunya berlalu.. menuju akhir tahun, tidak ada yang tahu gimana akhirnya semua ini berujung.

  Sabar ya, satu per satu. Pasti ada jalan.🌹 

Comments

Popular Posts