Gagal Menabung, Pandemi Totalitas Bikin Dunia Seluruhnya Berkabung
Kejadian-kejadian yang tidak pernah kita sangka seringkali menjadi pelajaran dan bekal untuk kehidupan masa depan manusia. Banyak yang merasakan kehilangan, banyak juga yang didatangkan kebahagian tanpa peraasan menduga, usut-usut kaget tapi tetap menerima segala sesuatunya dengan lapang dada. Kejadian baik atau buruk terjadi seperti tabur tuai atau istilahnya karma memberikan sugesti untuk berbuat yang sewajarnya sebagai umat manusia. Tapi, mengapa kita yang “manusia” juga lupa apa itu arti “kita” sebenarnya?
Pernahkah kamu merasa setidaknya resah dan gelisah menentukan untuk melakukan sesuatu? Hati dan logika yang tidak pernah seimbang selalu menyulitkan setiap keputusan apalagi waktunya sedikit. Dipepet momen-momen yang mengejar situasi tertentu. “Kalau membeli baju dengan harga mahal di outlet ternama, worth it gak ya?”, “kalau baru makan jam 1 pagi, gemuk gak ya? Ah! Masih bisa olahraga diet! Cus, santap aja!”. Hal-hal seperti itu pasti sering kita alami. Kalau kata netizen, banyak tindakan impulsif yang berpengaruh banget ke masa depan. Mungkin di masa sekarang ini? Bisa jadi. Tidak menutup kemungkinan juga bakalan terjadi di masa tua nanti. Nah, lho. Mulai panik sedikit-lah-ya?
Pandemi saat ini sangat menyulitkan hampir melebihi setengah dari belahan dunia. Banyak negara yang dirugikan dari segi sosial, pendidikan, budaya, dan tidak lain lagi perihal ekonomi. Masyarakat mengeluhkesahkan tindakan-tindakan manusia lainnya yang tidak nurut sama pemerintah negaranya sendiri, apalagi WHO. Apes, tiris, mendadak bangkrut, di phk begitu saja, client ngumpet tahu-tahu minta refund uang DP, booking canceled, sampai jual barang demi pertahanan hidup sampai akhir tahun. Kita semua merasakannya. Kita semua menikmatinya. Kita semua marah dengan keadaan. Kita semua saling benci dan mencemooh secara tidak langsung melalui berbagai media. Pengguna media sosial, jurnalis portal berita, pejuang garda di depan, pegawai rumah sakit, sampai penjaga liang kubur.
Ini merupakan masa terburuk sepanjang hidup saya. Sebelum kehadiran musibah yang-sangat-tidak-terduga-ini, hidup saya sedang dalam masa-masa diberkati perjuangannya. Mahasiswi di tahun ketiga, dapat kesempatan mengisi waktu luang jadi freelancer wo, kegiatan perkuliahan memasuki masa penulisan ilmiah, mata pencaharian ekonomi keluarga orang tua saya juga bisa dikatakan cukup meningkat perkembangannya di awal tahun. Kelihatannya, Tuhan sedang membantu kehidupan saya naik untuk berada di atas roda. Seakan-akan pendakian ke atas bukit bersama keluarga dan lingkungan lagi seru-serunya berlomba siapa cepat sampai di puncak. Kemudian gempa bumi meratakan isi daratannya. Saya dan kamu dan semua orang di titik itu jatuh tidak beraturan. Benar-benar mimpi buruk jadi nama yang tepat untuk 2020.
Saya tidak mengira hal seperti ini justru jadi pembelajaran terhebat bagi kita semua manusia yang hidup pada abad ini. Mungkin ada beberapa yang masih bisa bertahan. Ada juga yang tidak terkena dampak sekaligus. Masih bisa liburan sana-sini menyebarkan apalah itu kuman, virus, jadi carrier ke banyak lingkungan. Ada juga yang 1001% dirugikan. Tidak mampu bayar tagihan kuota karena bukan bagian dari previlage yang rumahnya ada wifi, gak bisa ngerjain tugas karena laptop satu untuk semua, setiap hari hampir makan mie instan, tagihan listrik meledak, dan masih banyak hal lainnya yang sudah tidak kuat saya utarakan lagi. Semua itu terjadi pasti ada alasannya. Entah bagaimana cara berpikir saya selalu mengarah pada penyesalan dari hal-hal yang ditunda sebelumnya. Pikiran mengarah pada si karma itu. Pikiran yang mengganggu kalau mau tidur, aura negatif, mindset merugikan malam-malam sampai susah tidur. Bahkan tidak tidur sama sekali. Gak ketinggalan, perasaan kesal setiap saat bangun tidur, pasti juga kamu alamin kan?? Lagi-lagi seperti ini, lagi-lagi seperti pemalas-pengangguran-pusing-mikirin kesehatan mental -akhirnya self diagnosed. Wah. Ternyata begini ya rasanya menuliskan isi kepala yang lama dipendam selama berbulan-bulan gak keluar rumah. Saya beneran cuma beresin rumah dan kuliah daring aja selama ini. Gak ada kontak sosial langsung sama kerabat. Ngobrol virtual. Capek. Ini yang saya alamin. Bagaimana cerita orang lain di luar sana yang sama sekali gak beruntung ya.. Ditinggalkan karena covid, tidak boleh berkunjung karena status odp-lah, kontak langsung, apa-lah-yang kelihatannya udah gak waras dan sehat di situasi ini.
Pandemi benar-benar bikin kita semua berkabung. Hidup dan mati benar-benar di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Rejeki, kesehatan, kesejahteraan, kedamaian, keberuntungan, semua bisa jadi di tangan kita. Walaupun kuasa yang di atas memang segalanya, tapi gak ada salahnya kan buat kita masing-masing berusaha lebih lagi? Siapa sangka kalau satu komunitas berisikan 1000 orang bisa mengubah mindset yang lainnya untuk tetap bersyukur? Siapa sangka kalau saya setelah keluh kesah di atas tadi jadi bijaksana di titik ini dan mengatakan, Hey kamu! Tidak apa-apa sedih dan terpuruk. Tapi coba ingat yang benar-benar kekurangan dan tidak bisa tidur di atas empuknya kasur? Maukah kamu membayangkan hidupmu sekarang seperti itu? Lihat. Pasti wajahmu mengerut cemberut.
Saya memang gagal menabung. Saya juga termasuk manusia suka bertindak impulsif. Saya pun sering tidak menyadari hal-hal kecil yang harus jadi rasa syukur setiap harinya ketika masih bisa bernapas sampai tulisan ini terunggah. Jadi, biarpun segalanya kacau sekarang, tidak apa-apa mengambil ruangmu sendiri seperti yang Tulus sering katakan. Sementara waktu, jauhkan ponselmu. Tinggalkan laman berita, force stop media sosial. Tutup telinga kalau-kalau dirasa lelah mendengarkan yang gak ada kemajuan. Nanti, bila dirasa perasaanmu sudah ingin terjun lagi dengan sosial, ya monggo mas, mba. Kalian-kalian pun dinanti kehadirannya. Cepat atau lambat, masa-masa gelap ini memudar dan kembali terang. Optimis, yuk! Kita pasti membaik, semua akan selesai, pandemi, dan waktu berkabung.😇
Tertanda dari rumah aja,
M.M.

Comments
Post a Comment