Di mana Kita Menginjakkan Kaki?
Seorang kesulitan membagi waktu antara bermain gadget dengan kegiatan virtualnya dan realita. Aktivitas yang dilakukan ‘di sana’ sering memakan waktu melebihi 8 jam dalam sehari karena bolak-balik aplikasi di smartphone-nya tanpa tujuan pasti.
Dewasa ini, kita sering mengalami yang namanya kecanduan digital. Begitu banyak hal menarik yang tersedia di dunia digital sehingga terkadang melupakan kenyataan yang ada, kehidupan seharusnya manusia sebagai makhluk ciptaan yang berakal budi. Saya menamakannya sebagai sebuah adiktif terhadap kehidupan di dunia maya, di mana segala sesuatunya dapat dengan sangat mudah dilakukan hanya dengan sentuhan layar ibu jari. Rasanya seperti penurunan kecerdasan emosional dan kelemahan berinteraksi secara langsung menjadi ajang dalam dunia penyakit kesehatan mental. Kenapa? Karena inilah awal mulanya.
Sama seperti peradaban manusia dimulai, beberapa kepercayaan mengatakan bahwa secara garis besar manusia diciptakan untuk hidup di bumi dengan kewajiban menjaga, melindungi, memanfaatkan segala isinya, dan beranak cucu sebagai bentuk pemeliharan mulia terhadap bumi. Kehidupan dunia digital masa kini juga demikian. Serupa tapi tak sama. Ketika manusia yang berakal budi ini mulai berinovasi dan menciptakan ‘bumi’-nya sendiri dan membangun ‘dunia’-nya sendiri, apakah sudah termasuk dalam pertimbangan bahwa segala yang diciptakan dan dibangun itu akan juga mulia, terutama bagi sesama?

Comments
Post a Comment