Oh, Ku Kira Tahu Setiap Jawaban
Semakin sulit membedakan arti keberuntungan dan takdir. Semakin sulit mengenali jalan hidup yang penuh lika-liku. Setiap saat waktu berlalu, setiap hari waktu terasa tak cukup. Seperti air terjun mengalir membawa yang hanyut. Jiwa dan raga hanya terbangun di waktu petang. Apa yang sedang semesta tunjukan pada kami? Apa yang sedang bumi inginkan saat ini? Bagaimana bisa mengerti cara kerja dunia? Mengapa manusia berlomba mencapai langit?
Hampir satu semester saya bertahan tak ingin bergejolak. Ternyata, pikiran dan batin juga punya kapasitas. Memasuki masa peralihan, lagi-lagi beradaptasi.
Apa kabar?
Apakah anda benar-benar sehat jiwa dan raga?
Bagaimana perasaanmu, setelah merasa berhasil melewatinya sampai di titik ini?
Saya merindukan hari-hari saya. Saya merindukan suasana stasiun kereta api, apalagi gerbong wanita. Saya merindukan kegiatan belajar di kampus. Saya merindukan ramahnya barsita kedai kopi, dibalik masker dan pelindung muka. Saya merindukan bocah komplek setiap sore, lari sana-sini ngejar bola, ngejar layangan. Saya merindukan celetukan teman-teman saya, yang receh, yang sarkas, yang datang saat membutuhkan, yang gak banyak ngobrol bilangnya introvert.
Saya yakin, bukan hanya saya seorang yang berteriak di media sosial. Apapun yang terucap lewat ibu jari, semuanya murni dari lubuk hati. Saya harap saya tau contekan semesta. Oh, ku harap tau setiap jawaban. Apalagi yang akan dilakukan 2020 sampai akhir tahun?
"Kemungkinan terbesar adalah 2021". Banyak berita seperti bukti nyata, tapi tak sadar realita di depan mata. Haduh, haduh, haduh. Ayo dong, tetap harus bersyukur. "Ya, tapi, lebih enak mengeluh, kan?"
Saya sedang mencerna, lho. Mencoba memahami, iseng-iseng siapa tahu dapat benang merah. Cepat-cepatlah vaksin bekerja, tapi tunggu.. Dari mana kita dapat kepastian?
Comments
Post a Comment